Merayap gelap melintas kesepian hati
yang hampa tak terjamah rasa
yang mati dan tiada peduli
yang ingin pergi jauh kembali
Pada kedamaian, pada keindahan
pada semua kenangan yang terlupakan
Menggerogoti setiap sendi-sendi ketegaran
menyusupkan benih-benih keputusasaan
Menutup mata memandang arah
dan memang telah hilang arah
Kemana berpalingnya wajah
kemana bertujunya langkah
Dan disinilah aku saat ini
memahami, tak kunjung paham
coba mengerti, tak jua mengerti
mencari arah, kuhilang tujuan
apa yang dapat kulakukan?
Dan terus bertanya
Tampilkan postingan dengan label puisi patah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi patah hati. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 September 2009
Rabu, 29 Juli 2009
semua tentang mu
Singkirkan senyum manismu,
karena senyum itu bukan untukku
Singkirkan hadirmu itu,
karena hadirmu bukan untuk mataku
Tak perlu semua itu,
hanya membawa hal-hal picisan bagiku
Kuharap kau tak pernah tahu,
supaya kau tetap tenang lanjutkan langkahmu
Pergilah ke mana pun kau mau,
bawa serta dewimu itu
Bantu aku menarik mundur pasukan panah asmaraku,
dari medan magnetmu
Karena seribu panahku,
percuma menampar dinding batu,
yang berdiri kaku antara kau dan aku,
dan tak lekang oleh waktu
karena senyum itu bukan untukku
Singkirkan hadirmu itu,
karena hadirmu bukan untuk mataku
Tak perlu semua itu,
hanya membawa hal-hal picisan bagiku
Kuharap kau tak pernah tahu,
supaya kau tetap tenang lanjutkan langkahmu
Pergilah ke mana pun kau mau,
bawa serta dewimu itu
Bantu aku menarik mundur pasukan panah asmaraku,
dari medan magnetmu
Karena seribu panahku,
percuma menampar dinding batu,
yang berdiri kaku antara kau dan aku,
dan tak lekang oleh waktu
seperti mati
Seperti Mati
Seperti mati kurasa,
jika ku seorang penyair
yang tak mampu lagi ungkapkan isi hati
dengan rangkaian puisi
Seperti mati kurasa,
jika ku seorang pelari
yang tak sanggup lagi berdiri
diatas kedua kaki dan harga diri
Seperti mati kukira,
saat ku tak dapat kembangkan senyum
ketika seseorang ramah menyapaku
mengawali hari tuk gapai mimpi
Seperti mati kukira,
saat ku tak kuasa menahan tawa
ketika seseorang meratapi nasibku
yang tak kunjung tiba temukan asa
Seperti mati kurasa,
jika ku seorang penyair
yang tak mampu lagi ungkapkan isi hati
dengan rangkaian puisi
Seperti mati kurasa,
jika ku seorang pelari
yang tak sanggup lagi berdiri
diatas kedua kaki dan harga diri
Seperti mati kukira,
saat ku tak dapat kembangkan senyum
ketika seseorang ramah menyapaku
mengawali hari tuk gapai mimpi
Seperti mati kukira,
saat ku tak kuasa menahan tawa
ketika seseorang meratapi nasibku
yang tak kunjung tiba temukan asa
Minggu, 10 Mei 2009
lantak
Ada banyak malam saat aku menangisimu
Menangisi ketiadaanmu dan meneriaki gelap yang tak turut menghisapku
Tumpah bukan kata terbaik untuk menggambaran derai air mataku
Jiwaku hancur, lantak dalam liatan gelombang tertinggi
Ada banyak sesal yang ingin kukatakan padamu
Dan banyak maaf yang tidak akan lagi terdengar olehmu
Tapi di atas tumpukan rasa yang semakin membuatku gila
Aku sangat merindukanmu…
Menangisi ketiadaanmu dan meneriaki gelap yang tak turut menghisapku
Tumpah bukan kata terbaik untuk menggambaran derai air mataku
Jiwaku hancur, lantak dalam liatan gelombang tertinggi
Ada banyak sesal yang ingin kukatakan padamu
Dan banyak maaf yang tidak akan lagi terdengar olehmu
Tapi di atas tumpukan rasa yang semakin membuatku gila
Aku sangat merindukanmu…
jangan tentangmu
Ini kepalaku...
Pukul saja hingga hancur bila kau tak suka
Ini mataku...
Tusuk saja dengan pisau bila kau tak suka
Ini telingaku...
Iris saja bila memang kau tak suka
Ini dua tanganku...
Potong saja keduanya kalau benar-benar kau tak suka
Ini kaki-kakiku...
Patahkan saja bila itu juga tak kau suka
Ini tubuhku...
Sayat saja bila kau tak suka juga
Tapi,
Aku mohon, cuma satu permintaanku
Setelah puas kau remukkan kepalaku
Kau cocok dua mataku hingga tak terlihat lagi kamu
Dan telingaku tak bisa lagi mendengar tawamu
Tanganku tak bisa lagi menyentuhmu
Kakiku yang tak bisa pula ikuti langkahmu
Serta tubuhku yang tak bisa kau peluk lagi
Tolong!
Jangan sampai engkau hancurkan otakku juga
Karena di dalamnya semua ingatanku, ya... kamu
Tolong!
Jangan kau injak juga hatiku
Karena di hatiku telah terasuk semua tentangmu
Cuma itu..
Walau semua yang ada di tubuhku rusak
Tapi tentangmu tak akan pernah hilang...
Aku mohon..
Cuma itu..
Itu saja..
Pukul saja hingga hancur bila kau tak suka
Ini mataku...
Tusuk saja dengan pisau bila kau tak suka
Ini telingaku...
Iris saja bila memang kau tak suka
Ini dua tanganku...
Potong saja keduanya kalau benar-benar kau tak suka
Ini kaki-kakiku...
Patahkan saja bila itu juga tak kau suka
Ini tubuhku...
Sayat saja bila kau tak suka juga
Tapi,
Aku mohon, cuma satu permintaanku
Setelah puas kau remukkan kepalaku
Kau cocok dua mataku hingga tak terlihat lagi kamu
Dan telingaku tak bisa lagi mendengar tawamu
Tanganku tak bisa lagi menyentuhmu
Kakiku yang tak bisa pula ikuti langkahmu
Serta tubuhku yang tak bisa kau peluk lagi
Tolong!
Jangan sampai engkau hancurkan otakku juga
Karena di dalamnya semua ingatanku, ya... kamu
Tolong!
Jangan kau injak juga hatiku
Karena di hatiku telah terasuk semua tentangmu
Cuma itu..
Walau semua yang ada di tubuhku rusak
Tapi tentangmu tak akan pernah hilang...
Aku mohon..
Cuma itu..
Itu saja..
jangan tentangmu
Ini kepalaku...
Pukul saja hingga hancur bila kau tak suka
Ini mataku...
Tusuk saja dengan pisau bila kau tak suka
Ini telingaku...
Iris saja bila memang kau tak suka
Ini dua tanganku...
Potong saja keduanya kalau benar-benar kau tak suka
Ini kaki-kakiku...
Patahkan saja bila itu juga tak kau suka
Ini tubuhku...
Sayat saja bila kau tak suka juga
Tapi,
Aku mohon, cuma satu permintaanku
Setelah puas kau remukkan kepalaku
Kau cocok dua mataku hingga tak terlihat lagi kamu
Dan telingaku tak bisa lagi mendengar tawamu
Tanganku tak bisa lagi menyentuhmu
Kakiku yang tak bisa pula ikuti langkahmu
Serta tubuhku yang tak bisa kau peluk lagi
Tolong!
Jangan sampai engkau hancurkan otakku juga
Karena di dalamnya semua ingatanku, ya... kamu
Tolong!
Jangan kau injak juga hatiku
Karena di hatiku telah terasuk semua tentangmu
Cuma itu..
Walau semua yang ada di tubuhku rusak
Tapi tentangmu tak akan pernah hilang...
Aku mohon..
Cuma itu..
Itu saja..
Pukul saja hingga hancur bila kau tak suka
Ini mataku...
Tusuk saja dengan pisau bila kau tak suka
Ini telingaku...
Iris saja bila memang kau tak suka
Ini dua tanganku...
Potong saja keduanya kalau benar-benar kau tak suka
Ini kaki-kakiku...
Patahkan saja bila itu juga tak kau suka
Ini tubuhku...
Sayat saja bila kau tak suka juga
Tapi,
Aku mohon, cuma satu permintaanku
Setelah puas kau remukkan kepalaku
Kau cocok dua mataku hingga tak terlihat lagi kamu
Dan telingaku tak bisa lagi mendengar tawamu
Tanganku tak bisa lagi menyentuhmu
Kakiku yang tak bisa pula ikuti langkahmu
Serta tubuhku yang tak bisa kau peluk lagi
Tolong!
Jangan sampai engkau hancurkan otakku juga
Karena di dalamnya semua ingatanku, ya... kamu
Tolong!
Jangan kau injak juga hatiku
Karena di hatiku telah terasuk semua tentangmu
Cuma itu..
Walau semua yang ada di tubuhku rusak
Tapi tentangmu tak akan pernah hilang...
Aku mohon..
Cuma itu..
Itu saja..
Langganan:
Postingan (Atom)